Fokuslinenet.com – Jakarta — Delapan siswi SMK Kristen Gracia Kota Tangerang membawa kesenian tradisional daerah ke panggung nasional melalui penampilan Tari Cokek Sipatmo dalam rangkaian peringatan 40 tahun perjalanan Asosiasi Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW).
Penampilan tersebut berlangsung di Auditorium Lantai 2 Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026).
Kehadiran Tari Cokek Sipatmo dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus menjaga keberadaan seni tradisional Tangerang di tengah generasi muda. Para siswi tidak hanya tampil sebagai penari, tetapi juga membawa identitas budaya daerah ke hadapan masyarakat yang lebih luas.
Sebelum pertunjukan dimulai, suasana auditorium semakin terasa kental dengan nuansa budaya melalui alunan musik tehyan. Musik tradisional tersebut mengiringi dan memperkuat atmosfer pertunjukan yang mengangkat kesenian khas Tangerang.
Delapan siswi tampil mengenakan busana bernuansa kuning dengan selendang merah. Dengan gerakan yang kompak dan penuh ekspresi, mereka membawakan Tari Cokek Sipatmo di hadapan para tamu dan peserta kegiatan peringatan 40 tahun PPSW.
Kedelapan penari tersebut yakni Caren, Jelove, Greecia, Kristina, Yohana, Intan, Auxy, dan Merlinda. Mereka tampil di bawah bimbingan pelatih tari, Ibu Henny.
Ibu Henny mengungkapkan rasa bangganya karena para siswi mendapat kesempatan tampil di salah satu gedung publik nasional. Menurutnya, kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi para peserta didik sekaligus menjadi ruang pembelajaran untuk mengenal lebih dekat kesenian tradisional.
“Tari Cokek Sipatmo adalah warisan budaya leluhur Tangerang yang sangat berharga dan harus terus kita jaga keasliannya. Mengajarkan tarian ini kepada anak-anak muda bukanlah hal yang mudah, tetapi semangat para siswi ini luar biasa,” ujar Ibu Henny.
Ia menambahkan, proses latihan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghafal dan mengikuti gerakan tari. Para siswi juga diajarkan mengenai pentingnya memahami nilai budaya yang terkandung dalam kesenian yang mereka bawakan.
“Saya sangat bangga melihat mereka bisa tampil percaya diri dan luwes membawakan Tari Cokek Sipatmo di hadapan para tamu Perpusnas RI. Semoga ruang-ruang seperti yang diberikan oleh PPSW ini terus ada agar generasi muda semakin mencintai dan melestarikan seni budaya lokal,” katanya.
Membawa Identitas Budaya Tangerang
Tari Cokek merupakan salah satu kesenian yang memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan budaya masyarakat Tangerang. Kesenian tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal yang perlu dikenalkan secara berkelanjutan kepada generasi muda.
Penampilan di Perpusnas RI menjadi kesempatan bagi para siswi SMK Kristen Gracia untuk memperlihatkan bahwa seni tradisional masih dapat berkembang dan tampil di tengah ruang publik yang lebih luas.
Di atas panggung, kedelapan penari terlihat berusaha menjaga kekompakan gerakan. Selendang merah yang mereka kenakan turut memberikan warna dalam pertunjukan, sementara ekspresi para penari membuat penampilan berlangsung dinamis.
Bagi Caren dan ketujuh rekannya, tampil di hadapan masyarakat dalam sebuah kegiatan berskala nasional juga menjadi pengalaman tersendiri. Mereka dituntut untuk mampu menguasai gerakan, menjaga kekompakan, sekaligus membangun keberanian ketika tampil di atas panggung.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus kecintaan terhadap kebudayaan daerah.
Pelestarian seni tradisional, dengan demikian, tidak hanya menjadi tanggung jawab seniman atau komunitas budaya. Sekolah dan generasi muda juga memiliki peran penting dalam memastikan kesenian lokal tetap dikenal dan memiliki ruang untuk berkembang.
Semangat Generasi Muda Melestarikan Budaya
Peringatan 40 tahun PPSW sendiri menjadi momentum untuk mengenang perjalanan organisasi dalam berbagai kegiatan pemberdayaan perempuan dan masyarakat di tingkat akar rumput.
Di tengah rangkaian kegiatan tersebut, penampilan Tari Cokek Sipatmo memberikan warna tersendiri. Seni budaya menjadi salah satu sarana yang mempertemukan nilai tradisi dengan semangat generasi muda.
Keterlibatan delapan siswi SMK Kristen Gracia menunjukkan bahwa kegiatan pelestarian budaya dapat berjalan berdampingan dengan pendidikan. Para pelajar mendapatkan pengalaman langsung untuk mengenal, mempelajari, sekaligus mempertunjukkan warisan budaya daerah.
Dari Tangerang menuju Jakarta, Tari Cokek Sipatmo hadir bukan sekadar sebagai sebuah pertunjukan tari. Penampilan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan budaya Tangerang kepada masyarakat yang lebih luas.
Melalui panggung seperti di Perpusnas RI, generasi muda mendapat kesempatan untuk menunjukkan bahwa kesenian tradisional tetap memiliki tempat di tengah perkembangan zaman.
Penampilan delapan siswi SMK Kristen Gracia itu pun menjadi catatan tersendiri dalam rangkaian peringatan 40 tahun PPSW. Dari gerakan tari, musik tradisional, hingga semangat para pelajar, tersampaikan pesan bahwa warisan budaya akan terus hidup apabila generasi penerus mau mengenal, mempelajari, menjaga, dan menampilkannya.
Dari Tangerang ke panggung nasional, Tari Cokek Sipatmo menjadi simbol bahwa budaya lokal dapat terus melangkah lebih jauh ketika generasi muda diberikan ruang untuk menjadi bagian dari pelestariannya.
Red





